Pendidikan Karakter di Masa Pandemi, Menjadi Tanggung Jawab Siapa?

Komentar · 157 Views

Salah satu ajaran yang terkenal dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “ Setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah.” Mengintegrasikan ajaran beliau dengan tujuan kurikulum 2013, maka setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran.

Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Terkait belajar dari rumah. Mendikbud menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring)/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Mendikbud mengajurkan bagi daerah yang sudah melakukan belajar dari rumah agar dipastikan guru juga mengajar dari rumah untuk menjaga keamanan para guru.

Mendikbud dalam isi Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 itu juga menyatakan bahwa pembelajaran daring/jarak jauh difokuskan pada peningkatan pemahaman siswa mengenai virus korona dan wabah Covid-19. Adapun aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk dalam hal kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. Bukti atau produk aktivitas belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif. Walaupun banyak sekolah menerapkan belajar dari rumah, bukan berarti guru hanya memberikan pekerjaan saja kepada peserta didik, tetapi juga ikut berinteraksi dan berkomunikasi membantu peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas mereka. Guru tetap perlu berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswanya meskipun tidak dari dalam ruang kelas.

Sampai hari ini ruang kelas masih dipandang sebagai pendidikan yang sesungguhnya oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Masyarakat masih memandang bahwa ruang kelas adalah sekolah yang sesungguhnya  dan kelas online itu less effective. Masyarakat belum menganggap kelas online dapat membantu dalam pendidikan anak meskipun, saat ini telah banyak bermunculan start-up yang bergerak dalam bidang pendidikan online. Kita menganggap bahwa penutupan ruang kelas berdampak terhadap guru, siswa, dan orang tua di mana pun. Jika sebelumnya ada banyak sekali sekolah yang sudah menggunakan teknologi dalam pembelajaran, maka dalam kondisi yang tidak biasa ini, semua sekolah di Indonesia dipaksa untuk menerapkan teknologi dalam proses belajar mengajar. Padahal teknologi tidak sepenuhnya dapat membantu proses belajar dari jarak jauh menjadi lebih mudah untuk diterapkan. Ada banyak kendala yang dihadapi oleh siswa dalam menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran jarak jauh, khususnya untuk para siswa dan guru yang tinggal di daerah – daerah terpencil, mereka yang tinggal di pedalaman, ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan orang tua peserta didik untuk memiliki HP smartphone dan harus membeli kuota internet guna mengakses internet setiap hari. Mengesampingkan keterbatasan di atas, artikel ini ingin menyampaikan bahwa ada kendala yang tidak dapat dijangkau oleh teknologi yang lebih dari itu semua, bahwa teknologi tidak dapat menyentuh salah satu inti dari pendidikan, yaitu pendidikan karakter. Ketika  pendidikan harus menerapkan pembalajaran jarak jauh, ketika siswa harus belajar dari rumah, ketika guru harus mengajar dari rumah, maka siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter siswa?

Salah satu ajaran yang terkenal dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “ Setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah.” Mengintegrasikan ajaran beliau dengan  tujuan kurikulum 2013, maka setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran. Pertama bahwa setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus dapat mengajarkan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Kedua bahwa setiap rumah hendaknya menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga, khususnya anak – anak, untuk bisa memperoleh sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan untuk kehidupan yang penuh makna di masa depan. Sikap spiritual dan sosial inilah yang akan membentuk karakter peserta didik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. Pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik itu tidak selalu harus mengandalkan ruang – ruang kelas melalui  guru yang secara resmi mengajar di sekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh dari orang tua dan orang dewasa yang ada di rumah dan di sekitarnya (community based education).

Al Quran sendiri banyak menjelaskan tentang pendidikan Islam seperti di surat Al Lukman ayat 13 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.

Pada ayat di atas, dijelaskan bahwa pendidikan yang paling ditekankan adalah pendidikan karakter yang dilakukan orang tua dari rumah, karena pendidikan dari orang tua merupakan pendidikan yang paling pertama  didapatkan oleh seorang anak sebelum mendapatkan pendidikan dari luar seperti sekolah atau madrasah. Dan ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa orang tua sebagai orang dewasa yang ada di rumah dan sebagai guru pertamanya peserta didik, harus melarang kita untuk berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Disamping itu pada ayat selanjutnya  secara terang-terangan menjelaskan kepada kita tentang prinsip-prinsip dasar dari materi pendidikan karakter yang sangat kuat yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan yang nantinya akan membentuk karakter seorang anak untuk menjadi bekal bagi anak tersebut.

Penelitian yang penulis lakukan dengan jumlah responden sebanyak 178 orang tuam murid dari tingkat TK sampai dengan SMU menunjukan bahwa orang tua siswa setuju untuk mengatakan bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya melakukan pendidikan karakter terhadap anaknya tanpa bantuan guru. Para orang tua yakin bahwa guru sangat membantu mereka dalam membentuk dan membangun karakter anak-anaknya. Mereka merasa bahwa keberadaan guru dalam membangun karakter anak-anak sangat dibutuhkan. Tanpa adanya peran serta guru maka orang tua  tidak dapat secara maksimal membentuk dan membangun karakter anak – anak mereka.

Keterangan :

Diagram 1 menunjukan dari 178 responden, 92,1% ( 164 responden) menyatakan bahwa orang tua tidak dapat membangun karakter anak dengan maksimal tanpa peran serta para guru.

Diagram 2 menunjukan dari 178 responden, 88,2% (157 responden) menyatakan bahwa karakter anak tidak dapat dibangun di rumah dan lingkungan anak tanpa adanya peran serta sekolah

Diagram 3 menunjukan dari 178 responden 98,3% (175 responden) menyatakan bahwa selama anak – anak belajar dari rumah peran serta guru dalam membangun karaktek peserta didik masih sangat diperlukan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) yang bergerak dibidang pendidikan, pengetahuan dan budaya mencanangkan empat pilar pendidikan yakni: (1) learning to Know (belajar agar mendapatkan ilmu pengetahuan), (2) learning to do (belajar agar mendapatkan keterampilan), (3) learning to be (belajar agar bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi seseorang yang bermanfaat), dan (4) learning to live together (belajar agar bisa hidup bermasyarakat secara global). Keempat pilar tersebut secara sinergi membentuk dan membangun pola pikir pendidikan di Indonesia. Pembentukan karakter ditunjukan oleh pilar ke (3) learning to be (belajar agar bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi seseorang yang bermanfaat), dan pilar ke (4) learning to live together (belajar agar bisa hidup bermasyarakat secara global). UNESCO menekankan betapa pentingnya pendidikan karakter sehingga memasukannya menjadi pilar pendidikan seluruh dunia.

Sejalan dengan UNESCO, pembangunan pendidikan nasional Indonesia didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya yang tertuang di dalam tujuan kurikulum. Tujuan kurikulum tahun 2013 revisi 2016 mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler. Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya”. Kedua kompetensi tersebut akan membentuk karakter peserta didik dan dapat dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik. Kondisi saat ini dimana anak harus belajar dari rumah tidak memungkinkan bagi guru untuk membangun karakter peserta didik secara langsung ataupun melalui indirect teaching seperti di sekolah. Sayangnya pendidikan karakter berupa perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dll melalui pembelajaran jarak jauh saat ini dianggap minim oleh para orang tua murid meskipun pembelajaran jarak jauh ini difasilitasi oleh teknologi yang memadai.

Diagram 4 di atas menunjukan dari 175 responden 59,4% (104 responden) menyatakan guru memberikan pendidikan karakter dengan jumlah yamg lebih sedikit dibandingkan materi pelajaran, 8% (14 responden) menyatakan guru tidak memberikan pendidikan karakter. Hanya 32,6% (57 responden) yang menyatakan bahwa pendidikan   karakter diberikan dengan porsi yang sama dengan materi pelajaran.      

Meskipun guru harus mengajar dari jarak jauh namun para orang tua masih sangat percaya bahwa pendidikan karakter di bawah bimbingan guru tetap diperlukan demi terciptanya tujuan pendidikan nasional sesuai amanah UUD tahun 1945.

Dalam pendidikann karakter Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik yang disepakati secara global, yaitu moral knowing atau memiliki pengetahuan tentang moral dan etika dalam bermasyarakat, moral feeling yaitu memiliki perasaan yang sesuai dengan moral, dan moral action yaitu melakukan perbuatan – perbuatan yang sesuai dengan nilai – nilai  moral. Ketiga karakter ini berlaku secara global di seluruh dunia secara fitrah manusia. Untuk mencapai ketiga karakter ini diperlukan tiga tempat pendidikan yang bekerja secara bersamaan yaitu rumah, sekolah, dan masyarakat.

Rumah harus kembali menjadi school of love atau baitii jannatii. Rumah dibawah tanggung jawab ayah dan ibu mejadi tempat penanaman  karakter yang kuat. Orang tua harus dapat memberikan rasa aman terhadap anak –anak agar mereka merasa dekat dan menjadikan orang tuanya sebagai role model yang pertama. Banyaknya anak remaja yang mengidolakan artis atau orang lain yang ia temui di medsos atau televisi merupakan salah satu dampak negative karena kurang maksimalnya peran orang tua sebagai role model mereka di rumah. Menurut Megawangi (2003) beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak adalah (1) Orang tua kurang menunjukan kasih sayang mereka bik secara verbal maupun fisik, (2) kurang meluangkan waktu untuk anaknya, (3) bersikap kasar terhadap anak baik secara verbal maupun fisik, (4) memaksa anak untuk menjadi pintar terlalu dini, (5) tidak menanamkan karakter yang baik dan kuat terhadap anaknya.

Pendidikan karakter melalui  sekolah  jarak jauh di saat peserta didik sedang school from home (sekolah  dari rumah) dapat tetap dikawal dan dikontrol oleh para guru. Salah satunya dengan memberikan lembar control karakter. Ada banyak karakter positif yang dapat dikembangkan oleh guru sesuai kompetensi inti dari kurikulum 2013 seperti memiliki sifat relijius, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, toleransi, gotong royong, santun, percaya diri, dll. Guru dapat mengembangkan lembar kontrol untuk diberikan kepada peserta didik dan untuk orang tua. Lembar kontrol tersebut dinilai  oleh guru, setelah  itu guru memberikan umpan balik.  Guru kemudian menguatkan karakter yang sudah baik dan mengubah karakter yang masih tidak sesuai. Guru dapat pula memberikan penghargaan (prizing) kepada siswa yang berprestasi setidaknya dengan mengucapkan selamat (congratulation) di group WA peserta didik, dan memberikan hukuman (punishment) melalui WA jalur pribadi agar nama baiknya tetap terjaga dan anak tidak merasa direndahkan di depan teman – temannya. Peserta didik juga dapat diberikan ucapan selamat jika mengerjakan tugas tepat waktu dan diberikan hukuman jika terlambat mengerjakan tugas sebagai bentuk penanaman karakter disiplin. Ketika ada kabar seorang peserta didik tidak dapat mengerjakan tugas karena tidak memiliki kuota internet, maka guru dapat mengajak teman – teman kelasnya untuk mentransfer pulsa sebagai bentuk penanamna karakter empati dan peduli. Guru dan wali kelas harus selalu mengkontrol setiap kata yang ditulis oleh peserta didik di dalam group WA anak2 sebagai bentuk penanaman karakter sopan dan antun dalam berucap dan bertanggung jawab atas semua ucapan dan perbuatan mereka.

Pendidikan karakter di masa learn from home (belajar dari rumah) ini harus tetap dikawal dan diawasi oleh guru. Menurut Arifin (2003) Tanggung jawab pendidikan karakter ada di tangan kita bersama demi mewujudkan pembangunan pendidikan nasional yang didasarkan pada paradigma membangun  manusia Indonesia seutuhnya. Yaitu manusia Indonesia yang memiliki keimanan, ketakwaan, akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur, memiliki kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menguasai ilmu pengetahuan, serta memiliki kecakakapan dan keterampilan demi Indonesia unggul.

Komentar